Daya Beli dan Pola Konsumsi Pasca Inflasi: Temuan Market Research terhadap Segmen Urban dan Middle Class

oleh Admin Feb 25, 2026 Insight

Daya Beli dan Pola Konsumsi Pasca Inflasi: Temuan Market Research terhadap Segmen Urban dan Middle Class


Inflasi yang terjadi dalam dua tahun terakhir telah mengubah pola belanja masyarakat Indonesia, khususnya pada segmen urban dan kelas menengah. Hasil market research terbaru menunjukkan adanya pergeseran prioritas konsumsi, peningkatan sensitivitas terhadap harga, serta perubahan preferensi kanal belanja.


Studi yang melibatkan lebih dari 1.200 responden di lima kota besar menunjukkan bahwa 68% konsumen urban kini lebih selektif dalam membelanjakan pengeluaran bulanan dibandingkan periode sebelum tekanan inflasi meningkat. Fokus utama beralih pada kebutuhan esensial, sementara pengeluaran untuk kategori tersier cenderung mengalami penyesuaian.


Pergeseran Prioritas Konsumsi

Temuan riset menunjukkan bahwa 74% responden mengalokasikan porsi pengeluaran lebih besar untuk kebutuhan pokok seperti makanan, transportasi, dan utilitas rumah tangga. Sementara itu, belanja untuk kategori gaya hidup seperti hiburan, fesyen, dan rekreasi mengalami penurunan rata-rata 15–20%.


Namun demikian, bukan berarti konsumsi non-esensial sepenuhnya berhenti. Konsumen kini lebih mengutamakan nilai (value for money). Diskon, bundling produk, serta promosi cashback menjadi faktor utama dalam pengambilan keputusan pembelian.


Menariknya, 52% responden menyatakan tetap bersedia membayar lebih untuk produk dengan kualitas dan manfaat jangka panjang yang jelas, terutama pada kategori kesehatan dan pendidikan.


Sensitivitas Harga dan Perilaku Belanja Digital

Market research juga mencatat peningkatan sensitivitas harga yang signifikan. Sebanyak 63% responden mengaku lebih aktif membandingkan harga antar merek sebelum melakukan pembelian. Platform digital dan marketplace menjadi sumber utama untuk membandingkan harga dan membaca ulasan produk.


Perilaku belanja online terus meningkat, dengan 57% responden urban menyatakan frekuensi transaksi digital mereka naik dibandingkan tahun sebelumnya. Faktor kemudahan, promo eksklusif, serta transparansi harga menjadi alasan utama pergeseran ini.


Di sisi lain, toko fisik tetap relevan untuk kategori tertentu seperti kebutuhan segar dan produk premium, di mana konsumen masih mengutamakan pengalaman langsung.


Dampak terhadap Strategi Brand dan Pelaku Usaha

Perubahan daya beli ini menuntut pelaku usaha untuk lebih adaptif dalam menyusun strategi pemasaran dan distribusi. Brand yang mampu menyesuaikan harga, menawarkan kemasan ekonomis, serta memberikan promosi yang tepat sasaran cenderung lebih bertahan dalam kondisi tekanan ekonomi.


Segmentasi menjadi kunci. Kelas menengah urban tidak sepenuhnya menurunkan konsumsi, tetapi mengalihkan pengeluaran ke kategori yang dianggap lebih penting dan bernilai jangka panjang.

Selain itu, komunikasi brand yang menekankan efisiensi, manfaat nyata, dan transparansi harga menjadi semakin relevan. Konsumen kini lebih rasional dan berbasis pertimbangan sebelum melakukan pembelian.


Outlook Konsumsi ke Depan

Meskipun tekanan inflasi mulai menunjukkan tanda stabilisasi, perilaku konsumen diperkirakan tidak sepenuhnya kembali seperti sebelum periode kenaikan harga. Kebiasaan membandingkan harga dan mencari promo diprediksi akan tetap menjadi pola dominan.

Market research ini menunjukkan bahwa segmen urban dan middle class Indonesia sedang berada dalam fase penyesuaian struktural. Bagi pelaku usaha, memahami dinamika ini bukan sekadar pilihan, melainkan kebutuhan strategis untuk mempertahankan pertumbuhan di tengah perubahan lanskap ekonomi.