Jakarta — Hasil survei terbaru yang dilakukan oleh Survey Center Indonesia (SCI) menunjukkan adanya perubahan signifikan dalam preferensi karier generasi muda Indonesia. Mayoritas responden menyatakan bahwa pekerjaan kantoran tidak lagi menjadi pilihan utama dalam membangun karier.
Survei yang dilakukan pada Januari–Februari 2026 ini melibatkan 1.200 responden berusia 18–30 tahun yang tersebar di wilayah Jabodetabek, Jawa, dan Sumatra. Penelitian menggunakan metode stratified random sampling dengan tingkat kepercayaan 95% dan margin of error ±2,9 persen.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa 63% responden menyatakan tidak lagi menjadikan pekerjaan kantoran sebagai tujuan utama karier, sementara 37% responden masih melihat pekerjaan kantor sebagai jalur karier ideal.
Dari responden yang tidak tertarik pada pekerjaan kantoran, pilihan karier yang paling diminati adalah membangun bisnis sendiri (36%), diikuti pekerja independen atau freelancer (17%), serta pekerjaan berbasis ekonomi digital seperti content creator (10%).
Direktur Riset Survey Center Indonesia menyampaikan bahwa temuan ini mencerminkan perubahan paradigma generasi muda dalam memandang pekerjaan dan kesuksesan.
“Generasi muda saat ini lebih memprioritaskan fleksibilitas, kebebasan waktu, serta peluang pendapatan dari ekonomi digital dibandingkan jalur karier konvensional di kantor,” ujarnya.
Penelitian juga mengidentifikasi beberapa faktor utama yang mempengaruhi perubahan preferensi tersebut. Sebanyak 72% responden menyebut fleksibilitas waktu sebagai alasan utama, sementara 58% menilai gaji pekerjaan kantoran tidak sebanding dengan biaya hidup, khususnya di wilayah perkotaan seperti Jabodetabek.
Selain itu, 49% responden mengaku terinspirasi oleh peluang ekonomi digital, termasuk bisnis online, freelance digital, serta berbagai sumber penghasilan melalui internet.
Menariknya, survei ini juga menemukan bahwa definisi kesuksesan bagi generasi muda mulai berubah. Sebanyak 42% responden mendefinisikan kesuksesan sebagai memiliki kebebasan waktu, diikuti memiliki bisnis sendiri (26%), pendapatan tinggi (21%), dan hanya 11% yang mengaitkan kesuksesan dengan jabatan karier di perusahaan.
Menurut Survey Center Indonesia, temuan ini menunjukkan bahwa model karier tradisional mulai mengalami pergeseran menuju model yang lebih fleksibel dan berbasis keterampilan.
SCI menilai perubahan ini penting menjadi perhatian bagi dunia pendidikan, perusahaan, serta pembuat kebijakan agar mampu menyesuaikan diri dengan dinamika baru di pasar tenaga kerja Indonesia.